Api yang Tak Akan Padam (ATAP) Bagian 2 [Cerpen Nyata] - Guntara.com

Sunday, 16 March 2014

Api yang Tak Akan Padam (ATAP) Bagian 2 [Cerpen Nyata]

(Sebelumnnya pada bagian 1) Malam harinya ketika merenung di kamarku. Aku memutuskan untuk maju mencalonkan diri. Namun, sebagai ketua I bukan ketua umum. Lalu aku lengkapi pengisian formulir dan aku susun sementara program kerja ala kadarnya. Tambahan pula, langkahku ini telah direstui oleh kedua orangtua.
Api yang Tak Akan Padam (ATAP) Bagian 2
Keesokan harinya, kukembalikan formulir itu kepada Diah sambil tersenyum. Siang hari, ketika ORISLAH sedang mengadakan rapat membahas kegiatan Ramadhan karena sebentar lagi menginjak bulan Ramadhan. Ketua umum ORISLAH yang baru 2010/2011, Musa Aziz Nur Hamid dan ketua I Jusuf Mizan memberi restu dan dukungan untukku bila ingin maju mencalonkan diri menjadi ketua I OSIS atau bahkan ketua umum OSIS. Di saat itu pula, hadirin rapat yang terdiri dari pengurus-pengurus ORISLAH menyatakan ikut mendukungku. Dalam hatiku merasa sangat senang dan sangat bersyukur karena ORISLAH telah memberi restunya. Aku semakin mantap untuk melangkah. Terlebih pacarku, sebut saja Dessy Amanda Ulinuha sepenuhnya mendukung langkahku ini. Hatiku semakin berbunga-bunga dan menambah kobaran semangatku.

Tiba suatu hari ketika aku dan calon-calon ketua umum – ketua I OSIS diwawancara untuk kemantapannya oleh pasangan ketua umum – ketua I OSIS 2009/2010, Arif Frediansyah dan Tommy Habiburrahman. Suasana bagiku biasa-biasa saja dan tidak amat menegangkan karena sudah biasa aku menjalani wawancara seperti ini. Wawancara yang begitu panjang, hingga tiba giliranku. Mereka bertanya-tanya tentang diriku, kepribadianku, dan alasanku mencalonkan diri. Aku menjawab dengan lugas dan alhamdulillah lancar tanpa kesulitan berarti. Hingga muncul suatu pertanyaan.

“Kenapa kamu tidak mencalonkan diri untuk menjadi ketua umum sekalian? Tak hanya sebagai ketua I,” tanya Tommy.

“Kami rasa kamu bisa dan kami yakin kamu bisa bila menjadi ketua umum. Terlebih kamu sudah cukup syarat akan pengalaman. Aku melihatmu hampir selalu aktif dan hadir dalam setiap acara OSIS 2009/2010,” tegas Arif.

“Aku belum siap mas. Aku masih sulit dalam mengendalikan beberapa anak yang terbilang agak bandel di sekolah ini. Secara kepemimpinan dalam organisasi, insyaallah saya bisa. Namun, untuk pengendalian beberapa anak-anak di sekolah ini, sulit bagiku. Aku lebih memilih jadi Ketua I dan menyokong penuh kinerja dari ketua umum. Tidak harus di depan. Aku bisa sebagai bayangannya yang kuat di belakang. Siapapun ketua umumnya, aku siap menyokong!” lugasku.

Obrolan pun berlanjut seraya waktu terus berjalan. Tak terasa adzan Maghrib berkumandang, menandakan pukul 6 sore, dan wawancaraku pun berakhir. Inti dalam obrolan lanjutan tadi adalah Arif dan Tommy berusaha meyakinkanku untuk sekalian maju menjadi ketua umum OSIS. Entah apa yang membuat mereka sangat yakin padaku. Namun, aku akan berusaha siap bila itu memang amanah dan takdirku. Malam itu aku segera laksanakan sholat Maghrib di sekolah lalu bergegas pulang. Sebelumnya aku harus mengantar Jusuf Mizan pulang ke rumahnya dulu. Dia menunggu wawancaraku daritadi sekedar untuk minta diantar ke rumahnya. Aku menyanggupinya karena rumah kami searah. Aku pun mengantarnya pulang ke rumahnya, di lereng pegunungan timur sana.

Hari telah berganti. Sejenak Sabtu sore, 7 Agustus 2010, aku mencari hiburan atas kepenatan pikiranku selama ini. Kumainkan games Pro Evolution Soccer 2010 (PES 2010) di komputerku. Games PES merupakan permainan favoritku. Tiba-tiba ponsel busukku bergetar. Aku sebut ponsel busuk karena penampilan dan bentuk ponselku yang sudah tidak karuan. Ternyata ada panggilan dari Nisna. Nisna Perdanarini, itulah nama lengkapnya, ia adalah temanku dari MPK yang selama ini amat membantuku dan mendukungku dalam pencalonan ini.

“Assalamualaikum, om!” Sambut Nisna.

Nisna memang sering memanggilku ‘om’ karena kami cukup akrab selama ini.

“Wa’alaikumsalam. Ada apa, Nis?” Jawabku.

“Gini, om. Besok pas pemilu ketos kamu dipasangin sama Elvia ya?” Ujar Nisna.

Anastasha Elvia Dita Paskalis ialah salah satu teman kami yang menjabat sebagai bendahara I OSIS 2009/2010.

“Wah. Aku sama cowok aja. Aku agak gimana gitu kalau sama cewek. Aku gak enak, lebih leluasa kalau sama cowok. Bagaimana kalau aku sama si Rico aja. Rico jadi ketuanya dan aku siap menyokong penuh sebagai wakilnya,” tawarku.

Rico Harimurti Achsan adalah salah satu teman kami, ia memang belum mempunyai pengalaman apapun di organisasi. Namun, selama ini ia pandai bergaul dengan semua teman di sekolah dan termasuk bisa akrab juga dengan teman-teman kami yang agak bandel. Ia dianggap mampu dalam menangani permasalahan mengenai teman-teman kami.

“Rico sudah kami pasangkan dengan Gunawan, om. Sementara pasangan satunya adalah Esri Dika Parasedya – Shakina Jenny Kahyana Siwi. Tinggal cewek semua sisanya. Nanti aku rundingkan sama sama mas Arif dan Tommy dulu aja ya. Pokoknya aku perjuangkan kamu kalau bisa sama Rico. Biar kebijakkan mereka gimana, nanti kamu aku beri tahu lagi, oke!” Sahut Nisna.

Sejenak dalam hatiku lega karena Nisna akan mencoba berunding dengan mas Arif dan Tommy untuk penentuan nasibku. Apapun keputusannya nanti, aku akan ikhlas menerimanya. Toh, aku sudah memperjuangkannya. Sedikit membahas tentang Esri, dia menjabat sekretaris I OSIS 2009/2010. Sedangkan, Siwi menjadi sekretaris II OSIS 2009/2010. Esri memang mempunyai kemampuan lebih dari segi berbicara, terutama berbicara di depan umum, semangat, dan keuletannya. Banyak teman-teman menilai cocok bila aku dalam pemilu dipasangkan dengan Esri. Namun, bagiku pasangan cewek tidak enak, banyak alasan yang memperkuat. Terlebih, kemarin Jumat sebelum Jumatan, mas Tommy pun bilang sebenarnya aku dan Esri pantas. Namun, banyak faktor-faktor di luar yang bisa membuat Esri lemah. Apalagi tertanam dalam banyak hati warga SMA ini bahwa pemimpin sebaiknya berasal dari kaum laki-laki, begitulah kata Mas Tommy. Hal itu yang membuatku mempertimbangkan lagi tentang masalah ini. Entahlah, aku sudah siap menerima.

Sekitar pukul tujuh malam, aku mendapat SMS dari mas Tommy. Inti SMS itu adalah aku dipasangkan dengan Rico dan yang paling mengejutkan aku di posisikan menjadi calon ketua umum, bukan ketua I seperti yang aku inginkan. Otomatis, pasangan lainnya adalah Gunawan - Elvia dan Esri - Siwi. Mas Tommy juga sudah mengonfirmasi kebersediaan Rico. Ini adalah keputusan mas Tommy, termasuk juga mas Arif, dan petinggi-petinggi lainnya. Sungguh, ini membuatku kaget. Ini kebijakkan mereka dan aku sudah bertekad untuk ikhlas menerima.

Bersambung....! Bagaimana kisah Dani selanjutnya? Menuju bagian 3!

No comments:

Post a Comment

Berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Guntara Lane" dengan alamat www.guntara.com terimakasih!