SPRAY AEROSOL : Teknologi Untuk Mengurangi Kecurangan Pemain [NEW]

09:51:00
Jika Anda rajin mengikuti gelaran Copa America 2011 di Argentina yang dimulai pada awal bulan ini, maka Anda akan menemui suatu pemandangan unik dalam sebuah pertandingan ketika terjadi situasi tendangan bebas.

Ketika wasit meniup peluit tanda terjadi pelanggaran dan memberi tendangan bebas pada satu tim, maka wasit akan segera mengeluarkan sebuah alat yang berbentuk seperti semprotan berbentuk botol berukuran kecil. Lalu, wasit akan membuat sebuah garis dengan botol tersebut untuk menandai tempat dimana bola harus diletakkan.

Tak hanya itu, wasit juga akan membuat garis bagi tim yang terkena hukuman tendangan bebas untuk menandai dimana posisi pagar betis harus didirikan. Botol tersebut bisa menghasilkan suatu semprotan berwarna putih yang bersifat temporer di rumput lapangan.

Cukup ampuh untuk menghindari kecurangan yang biasa dilakukan para pemain. Misalnya dengan memajukkan posisi bola. Atau pemain-pemain yang berdiri sebagai pagar betis membuat pagar yang posisinya tidak sesuai dengan perintah wasit.

Teknologi sederhana ini memang belum diperkenalkan di Eropa ataupun di tempat lain. Copa America 2011 menjadi “ajang percobaan” penggunaan teknologi ini di sepakbola tingkat antar negara.
Spray Aerosol pada dasarnya adalah busa yang tidak membahayakan pemain maupun wasit. Penggunaannya pun sangat mudah. Wasit tinggal menyemprotkan botol tersebut membentuk sebuah garis. Garis yang bersifat temporer itu akan menghilang dari permukaan rumput dalam waktu kurang dari satu menit.

Spray aerosol sebenarnya sudah diterapkan di Liga Argentina sejak 2008 lalu. Tepatnya dimulai pada pertengahan tahun 2008 di divisi dua Liga Argentina. Baru pada 2009, teknologi ini juga diterapkan di Primera Division Argentina.

Alat ini ditemukan oleh seorang jurnalis sepakbola yang juga berprofesi sebagai pesepakbola amatir bernama Pablo Silva. Ia pernah dicurangi pemain lawan terkait tendangan bebas saat sedang bertanding.

Saat itu, tim Silva yang sedang tertinggal mendapat hadiah tendangan bebas dari wasit. Silva sendiri yang mengambil tendangan bebas itu. Tapi, anehnya pemain lawan hanya membuat pagar dengan jarak tiga meter dari bola. Dan wasit ternyata membiarkan hal tersebut.

“Ketika saya mengambil tendangan itu, jarak antara bola dan pagar betis hanya tiga meter. Anehnya, wasit tidak memberi peringatan pada mereka,” ucap Silva.
“Kami pun kalah. Ketika dalam perjalanan pulang, saya memikirkan untuk membuat suatu penemuan untuk menghentikan kecurangan semacam itu.”
“Alat ini merupakan hasil penelitian dan pengembangan selama delapan tahun. Pekerjaan ini dilakukan oleh para ahli kimia dan para peneliti sepakbola,” lanjutnya.

Presiden FIFA, Sepp Blatter, terkesan dengan alat tersebut. “Blatter kagum dengan alat ini. Ia mengatakan bahwa jika hal tersebut bagus untuk perkembangan sepakbola, maka bisa saja akan digunakan di seluruh dunia,” kata Silva.

Silva kemudian membuat perusahaan sendiri yang mengurusi masalah spray aerosol ini, yang dinamakan dengan “9,15 Fair Play Limit”. 9,15 merupakan jarak antara bola dengan pagar betis yang didirikan para pemain.

from:sidomi

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Guntara Lane" dengan alamat www.guntara.com terimakasih! EmoticonEmoticon