Proses Pembentukan Tanah di Kabupaten Bantul

06:51:00
Proses pembentukan tanah di Kabupaten Bantul dipengaruhi oleh faktor geologi dan geomorfologi. Ada lima satuan geomorfologi yang memengaruhi perkembangan dan persebaran tanah di Kabupaten Bantul, meliputi Bentuklahan Struktural, Fluvial, Solusional, Marin, dan Aeolin. (Dinas SDA Kab. Bantul, 2013).
Proses Pembentukan Tanah di Kabupaten Bantul (gambar: rumahdijual.com)

Satuan geomorfologi dataran aluvial merupakan bentuklahan asal proses fluvial (akibat pengikisan oleh aliran air). Daratan aluvial berada di bagian tengah Kabupaten Bantul berupa dataran dengan elevasi 0 – 25 m dpal, tersusun dari material endapan aluvium hasil proses denodasional formasi merapi muda, kemiringan lereng kurang dari 10 %, lapisan tanah cukup tebal. Satuan ini berupa cekungan yang diapit oleh 2 perbukitan di sisi timur perbukitan Batur Agung dan sebelah barat perbukitan menoreh sehingga membentuk sebuah graben “Bantul Graben”.

Satuan geomorfologi gunuk pasir dipengaruhi oleh bentuklahan asal proses marin (akibat aktivitas gelombang pantai) dan asal proses aeolin (akibat aktivitas gelombang angin yang terdeposisi). berada di bagian selatan sepanjang pantai Parangtritis sampai Srandakan. Materi penyusunnnya berupa pasir yang secara alami terendapkan di sepanjang pesisir pantai dan sebagian terangkut oleh aktivitas angin membentuk kompleks-kompleks bukit pasir dengan pola seperti bulan sabit (barchan), memanjang (longitudinal), seperti lidah dan membentuk gelombang; mempunyai kemiringan lereng kurang dari 10% dengan sifat fisis sangat porus dengan ketebalan lapisan 40 m.

Satuan geomorfologi perbukitan struktural, di sisi timur wilayah Kabupaten Bantul membujur dari sisi selatan ke uatara berasal dari lapukan dan pengangkatan (asal proses structural) batuan formasi Batur Agung berbatasan dengan perbukitan karst (asal proses solusional yaitu pelarutan batuan) wilayah gunungkidul yang dibatasi oleh Sungai Oyo. Satuan Geomorfologi ini mulai dari sisi timur  Parangtritis, Pundong sampai Imogiri, Pleret, Piyungan dan Dlingo, mempunyai ketinggian rata-rata 30 – 100 m dpal, dengan kemiringan lereng 11 – 90 %, sedangkan di sisi barat perbukitan denodasional berasal dari pelapukan formasi wates, berlokasi di sekitar perbukitan di Pajangan sampai perbukitan sekitar Sedayu di sebelah timur sungai Progo.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Guntara Lane" dengan alamat www.guntara.com terimakasih! EmoticonEmoticon