logo blog
Selamat Datang Di Catatan Si iGun | Ilham Guntara Official Web
Terima kasih atas kunjungan Saudara di blog Catatan Si iGun
Semoga apa yang saya tulis dan saya bagikan di sini dapat bermanfaat dan memberikan motivasi bagi kita semua
untuk terus berkarya, berkreasi, berinovasi dan berbuat sesuatu yang dapat berguna bagi nusantara serta orang lain. Aamiin!

Sistem Koordinat Peta dan Sistem Penomoran Peta



Sistem koordinat peta adalah sekumpulan aturan yang menentukan bagaimana koordinat-koordinat yang bersangkutan merepresentasikan titik-titik atau obyek pada sebuah peta. Aturan ini biasanya mendefinisikan titik asal (origin) beserta beberapa sumbu-sumbu koordinat untuk mengukur jarak dan sudut untuk menghasilkan koordinat. Sistem koordinat peta yang terkenal di dunia ini adalah sistem koordinat geografis dan sistem koordinat UTM (Universal Transvers Mercator).

            Sistem koordinat geografis atau sering disebut dengan sistem koordinat geodetis ini dikembangkan oleh Greenwich (dari Inggris) yang membagi bumi menjadi dua bagian irisan yaitu irisan melintang yang disebut dengan garis lintang mulai dari katulistiwa (equator), membesar ke arah kutub (utara maupun selatan) sedangkan yang lain membujur mulai dari garis Greenwich (dekat dengan Inggris) membesar ka arah barat dan timur. Satuan skala koordinat dibagi dalam derajat lintang 0° sampai 90° dan bujur 0° sampai 180°. Lintang berada di utara dan selatan equator, sedangkan bujur memanjang dari timur ke barat dari bujur Greenwich. Koordinat ini biasanya ditulis dalam satuan derajat, menit, dan detik, misalnya 110°35’32”, dan seterusnya. Koordinat geografi digunakan sebagai referensi peta dengan tujuan yang luas, tetapi biasanya hanya untuk pemetaan skala kecil (1 : 1.000.000 atau lebih kecil) dengan liputan daerah yang sangat luas. Koordinat ini banyak digunakan untuk terapan operasional di udara ataupun perairan seperti ditunjukkan pada semua chart (peta-peta navigasi).
           
            Sistem koordinat UTM (Universal Transvers Mercator) dengan sistem koordinat WGS 84 sering digunakan pada pemetaan wilayah Indonesia. UTM menggunakan silinder yang membungkus ellipsoid dengan kedudukan sumbu silindernya tegak lurus sumbu tegak ellipsoid (sumbu perputaran bumi) sehingga garis singgung ellipsoid dan silinder merupakan garis yang berhimpit dengan garis bujur pada ellipsoid. Pada system proyeksi UTM didefinisikan posisi horizontal dua dimensi (x,y) menggunakan proyeksi silinder, transversal, dan conform yang memotong bumi pada dua meridian standar. Seluruh wilayah yang ada di permukaan bumi dibagi menjadi 60 zona bujur. Zona 1 dimulai dari lautan teduh (pertemuan antara garis 180 Bujur Barat dan 180 Bujur Timur), menuju ke timur dan berakhir di tempat berawalnya zona 1. Masing-masing zona bujur memiliki lebar 6 (derajat) atau sekitar 667 kilometer. Garis lintang UTM dibagi menjadi 20 zona lintang dengan panjang masing-masing zona adalah 8 (derajat) atau sekitar 890 km. Zona lintang dimulai dari 80 LS - 72 LS diberi nama zona C dan berakhir pada zona X yang terletak pada koordinat 72 LU - 84 LU. Huruf (I) dan (O) tidak dipergunakan dalam penamaan zona lintang. Dengan demikian penamaan setiap zona UTM adalah koordinasi antara kode angka (garis bujur) dan kode huruf (garis lintang). Sebagai contoh kabupaten Garut terletak pada zona 47M dan 48M, Kabupaten Jember terletak di zona 49M. Sistem UTM ini diwujudkan dalam bentuk meter, sehingga pada masing-masing zone dibagi ke dalam kotak 100.000 meter. Perhitungan bujurnya dimulai dari meridian sentral yang terdapat pada tiap-tiap zone UTM dan dihargai dengan 500.000 meter T (absis semu), sedangkan perhitungan lintangnya (ordinat semu) dimulai dari equator yaitu 0.0 meter U di equator untuk belahan bumi utara dan 10.000.000 meter U di equator untuk belahan bumi selatan.

Penomoran lembar peta akan memberi petunjuk tentang kedudukan atau posisi lembar peta dalam setiap seri. Penomoran ini mempunyai bentuk yang seragam  (uniform), dan penomoran ini juga dihubungkan dengan sistem grid dan graticule. Bakosurtanal telah membakukan sistem penomoran peta rupa bumi indonesia dimulai dengan peta seri 1:250.000, 1:100.000, 1:50.000 dan 1:25.000 dan sistem penomoran ini saling terkait antara satu seri ke seri berikutnya.

Menurut PP nomor 10 Tahun 2000 disebutkan bahwa peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan atau buatan manusia, yang berada di atas maupun di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala tertentu. Salah satu peta yang dihasilkan oleh BAKOSURTANAL adalah Peta Rupabumi Indonesia (RBI). Peta RBI yang dihasilkan oleh BAKOSURTANAL meliputi skala 1:1.000.000, 1:250.000, 1:100.000, 1:50.000, 1:25.000 dan 1:10.000 dimana seluruh wilayah Indonesia dibagi ke dalam grid-grid ukuran peta yang sistematis. Semua lembar peta tepat antara satu dengan lainnya, demikian pula ukurannya sama untuk setiap lembar. Ukuran lembar peta tergantung dari skala peta yang dibuat.
Enter your email address to get update from Catatan Si iGun.
Print PDF
Selanjutnya
« Prev Post
Sebelumnya
Next Post »

Website resmi Ilham Guntara, berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Catatan Si iGun" dengan alamat www.guntara.com terimakasih!

Copyright © 2014. Catatan Si iGun | All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Modified by Ilham Guntara | Proudly powered by Blogger