Kisah Nyata: Taubatnya Sang Penginjil - Guntara.com

Thursday, 2 February 2017

Kisah Nyata: Taubatnya Sang Penginjil

Shalat tarawih baru saja usai, Kamis (6/10/2005). Jarum jam menunjuk angka 21.30 Wib, tiba-tiba telepon Ustadz Abu Deedat berdering. Setelah diangkat, terdengar suara, “Ustadz, ada pemuda lulusan madrasah tsanawiyah (MTs) jadi penginjil. Tolong selamatkan.” Si penelepon adalah pengelola Klinik dan Rumah Sakit Bersalin Ratna Komala, Bekasi, Ustadz Ahmad Yani. Pemuda yang bernama Gunawan (19) itu, diketahui murtad setelah mengalami kecelakaan dan dirawat di klinik miliknya. Malam itu juga, Gunawan pemuda asal Lampung ini dibawa ke FAKTA.
Taubatnya Sang Penginjil www.guntara.com
Taubatnya Sang Penginjil (gambar: suara-isam.com)
Gunawan bercerita, setelah ayahnya meninggal, ia mondok dan sekolah di sebuah MTs di Leuwiliang, Bogor, atas biaya pamannya. Setelah lulus tahun 2003, ia berkenalan dengan Ferdinand, laki-laki asal “B”. Gunawan diajak ke Bekasi dan dikenalkan pada pendeta, juga asal sama dengan “B”. “Diajak ke gereja saya nurut,” tutur Gunawan yang sudah mulai menjadi penginjil.

Meski hatinya berontak, Gunawan tak kuasa menolak ajakannya. “Mungkin, ini pengaruh minuman, seperti minyak urapan, yang diberikan pada saya,” ujarnya menebak. Kemudian, ia memperlihatkan foto copy ijazah tsanawiyah miliknya. Ustadz Deedat keheranan. Betapa tidak, nilai pendidikan Agama Islamnya sangat bagus, tapi kenapa murtad ? 

“Ibumu tahu, jika Anda sudah Kristen?” tanya Deedat menelisik. Ia mengatakan, bahwa keluarganya sudah tahu. Ibunya pun berkali-kali menasihati agar bertaubat dan kembali ke Islam, tapi ia malah marah-marah. “Apa aktivitas Anda di gereja?”. Ia mengaku mengajar gitar di sekolah Kristen dan melakukan pelayanan dengan cara menyampaikan kesaksian di gereja dan KKR. 

“Apa ajaran pendeta tentang Islam?” selidik Ustadz Deedat. “Islam tak menjamin keselamatan. Nabinya saja belum selamat karena masih didoakan dengan shalawat. Jika nabinya tak selamat, bagaimana dengan umatnya?” jawabnya polos. “Apa lagi doktrin pendeta tentang Islam?” lanjut Deedat. “Islam itu teroris, suka ngebom gereja dan mengajarkan poligami,” jawabnya. 

Setelah itu, Abu Deedat mulai melakukan terapi (penelusuran kenapa seseorang sampai menjadi murtad). “Jika Kristen menjamin keselamatan, coba baca Kisah Para Rasul 13:23.” Gunawan pun membaca ayat itu, “Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juru selamat bagi orang Israel, yaitu Yesus”. 

“Asal Anda dari mana?” tanya Deedat. “Lampung!” jawabnya singkat. “Menurut ayat itu, Anda tidak diselamatkan Yesus, karena Yesus hanya menyelamatkan orang Israel,” jelas Deedat. Gunawan menganggukkan kepala tanda petuju. 

Deedat menambahkan beberapa dalil. “Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel,” (Matius 15:24). Bahkan, Roh Kudus pun melarang penginjilan ke Asia: “Karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia,” (Kisah Para Rasul 16:6). Gunawan diam saja, pandangannya terpaku pada Alkitab di pangkuannya. 

“Apakah Anda masih meyakini Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat ?” Tanya Deedat. “Ya!” jawabnya mantap. “Jika begitu silakan baca Injil Markus 12:29.” Gunawan membacanya: “Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” 

“Jelas, bukan ? di ayat itu Yesus mengakui dirinya bukan Tuhan, karena ia bertuhan pada Allah. Karena Yesus punya Tuhan, maka ia bukan Tuhan. “Silakan baca Injil Lukas 6:12,” pinta Deedat. Dengan cepat ia menemukan ayat itu, nampak jelas ia terbiasa mengkaji Bibel. “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman ia berdoa kepada Allah.” 

“Makin jelas bukan, bahwa Yesus bukan Tuhan, bukan Juru selamat dan penebus dosa. Sebab, Yesus sendiri berdoa pada Allah ? Dalam Lukas 22:42 dan Matius 6:13 Yesus minta keselamatan pada Allah. Jika Yesus Juru selamat, seharusnya ia tak minta keselamatan pada siapapun,” tegas Deedat. 

Pemuda itu terperangah, pandangannya kosong. Tanpa membuang waktu, Deedat melanjutkan, “Memang, di Alkitab ada ayat yang menyatakan, Yesus mati dan hidup kembali supaya menjadi Tuhan. Tapi ini bukan sabda Yesus. Silahkan baca kitab Roma 14:9. 

Ia pun membacanya, “Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” “Ayat inilah yang jadi landasan bahwa Yesus adalah Tuhan. Tapi ini bukan sabda Yesus, melainkan tulisan Paulus pada jemaatnya di Roma. Ayat ini bertentangan dengan sabda Yesus dan firman Allah. Coba baca firman Allah dalam kitab Ulangan 4:35-39,” lanjut Deedat. 

Gunawan membacanya: “Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia….Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.” “Perhatikan baik-baik. Allah berfirman bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. Inilah syahadat La ilaha illallah. 

Mendengar kalimat tauhid , Gunawan tak kuasa menahan air matanya. Begitu kalimat “La ilaha illallah” di ulang, tangisnya makin menjadi. Ustadz Yani dan beberapa orang yang hadir menyarankan, agar Gunawan mengikrarkan ulang dua kalimat Syahadat. Sambil menjabat tangan Gunawan, Abu Deedat menuntun ikrar dua kalimat syahadat. 

Jum’at (7/10/2005) dini hari, hari ketiga Ramadhan, Gunawan kembali ke pangkuan Islam setelah dua tahun murtad. Abu Deedat terus melanjutkan terapinya. Keraguannya terhadap Islam hasil indoktrinasi pendeta, dipatahkan satu per satu. Deedat juga menjelaskan makna dan hakikat al-Islam.

Sebelum mengakhiri pertemuan, Deedat berpesan, “Selama ini, Dik Gun sudah berbuat dosa pada Allah, durhaka pada ibu dan bermusuhan dengan saudara kandung. Adik harus istighfar mohon ampun pada Allah. Besok harus minta maaf pada ibu di Lampung!”. Ia pun hanya menangis menyesali dosa-dosanya. 

Sekitar jam 01.15 dinihari, pertemuan berakhir. Wajah Gunawan nampak sumringah. Sebagai kenang-kenangan, ia menyerahkan Surat Baptisnya dari Gereja “B” pada Tim FAKTA. Semua yang hadir memeluk pemuda yang berbadan tinggi Gempal, seraya berpesan, “Cukup dua tahun berpisah dengan Islam. Jaga iman, jangan lepas lagi. Semoga istiqamah di jalan Allah.” 
“…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS.Al Baqarah : 217)
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS.Al Maa’idah : 54)
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata :”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. (QS.Al Ahzab : 12)
Sumber: Daarut Tauhiid

No comments:

Post a Comment

Berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Guntara Lane" dengan alamat www.guntara.com terimakasih!