Makam Raja-Raja Mataram Islam, Pajimatan, Imogiri - Guntara.com

Tuesday, 24 September 2013

Makam Raja-Raja Mataram Islam, Pajimatan, Imogiri

Makam Raja-Raja Mataram berlokasi di dusun Pajimatan, kelurahan Girirejo, kecamatan Imogiri, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta atau sekitar 17 KM ke arah selatan dari Kota Yogyakarta. Makam Raja-Raja Mataram dianggap suci dan keramat karena makam tersebut merupakan kompleks pemakaman bagi raja-raja dan keluarga raja dari Kesultanan Mataram (Yogyakarta dan Surakarta). Permakaman Imogiri merupakan salah satu obyek wisata di Bantul. Makam Imogiri dibangun pada tahun 1632 M oleh Sultan Mataram III, Prabu Hanyokrokusumo yang merupakan keturunan dari Panembahan Senopati, Raja Mataram I. Makam ini terletak di atas perbukitan yang juga masih satu gugusan dengan Pegunungan Seribu.
Salah Satu Kompleks Makam Sultan Yogyakarta
Konon ceritanya, Sultan Agung Hanyokrokusumo yang sakti setiap hari Jumat melaksanakan shalat Jumat di Mekkah, dan akhirnya beliau merasa tertarik untuk dimakamkan di Mekkah. Namun karena berbagai alasan keinginan tersebut ditolak dengan halus oleh Pejabat Agama di Mekkah, sebagai gantinya ia memperoleh segenggam pasir dari Mekkah. Seorang ulama (sahabat sultan) berpendapat bahwa jika Sultan Agung dimakamkan di Mekkah maka rakyat dan kerabatnya akan sulit apabila ingin berziarah ke makamnya, rakyat dan kerabat Sultan Agung sangat mencintai sang sultan, kemudian Sultan Agung disarankan untuk melempar pasir tersebut ke tanah Jawa, di mana pasir itu jatuh maka di tempat itulah yang akan menjadi makam Sultan Agung. Pasir tersebut jatuh di Giriloyo, tetapi di sana Pamannya, Gusti Pangeran Juminah (Sultan Cirebon) telah menunggu dan meminta untuk dimakamkan di tempat itu. Sultan Agung marah dan meminta Sultan Cirebon untuk segera meninggal, maka wafatlah ia. Selanjutnya pasir tersebut dilemparkan kembali oleh Sultan Agung dan jatuh di Pegunungan Merak yang kini menjadi makam Imogiri.

Raja-raja Mataram yang dimakamkan di tempat itu antara lain : Sultan Agung Hanyakrakusuma, Sri Ratu Batang, Amangkurat Amral, Amangkurat Mas, Paku Buwana I, Amangkurat Jawi, Paku Buwana II s/d Paku Buwana XI. Sedangkan dari Kasultanan Yogyakarta antara lain : Hamengku Buwana I s/d Hamengku Buwana IX, kecuali HB II yang dimakamkan di Astana Kotagede.
 
Sebelum memasuki makam raja, terdapat banyak anak tangga yang lebarnya sekitar 4 meter dengan kemiringan 45 derajat yang menghubungkan pemukiman dengan makam. Anak tangga di Permakaman Imogiri berjumlah 409 anak tangga. Menurut mitos yang dipercayai oleh sebagian masyarakat, jika pengunjung berhasil menghitung jumlah anak tangga dengan benar, maka semua keinginannya akan terkabul. Anak-anak tangga tersebut masih terbagi-bagi lagi dan setiap bagian anak tangga memiliki perlambangan tertentu.
 
Sebelum memasuki areal permakaman terdapat Gapura Supit Urang, Pendopo Supit Urang, Tempat Juru Kunci, dan 4 Tempayan Suci. Areal makam raja dibagi menjadi tiga daerah, yaitu Astana Kasultanan Agung, Makam Raja-Raja Yogyakarta Hadiningrat, dan Makam Raja-Raja Surakarta Hadiningrat. Sebelum memasuki makam Sultan Agung (Astana Kasultanan Agung) terdapat tiga gapura yang melambangkan tiga tahapan hidup manusia, yaitu: alam rahim, alam duniawi, dan alam kubur. Gerbang pertama bercorak bangunan hindu yang terbuat dari susunan batu bata merah tanpa semen dengan bentuk Candi Bentar dan diberinama Gapura Supit Urang. Di bagian dalam gerbang pertama terdapat dua buah paseban yang berada di sisi Barat dan Timur gerbang.
Salah Satu Pintu Gerbang Makam Raja Mataram
Tata cara memasuki makam raja-raja tersebut, antara lain setiap pengunjung diharuskan memakai pakaian tradisonal Mataram, pria harus mengenakan pakaian peranakan berupa beskap berwarna hitam atau biru tua bergaris-garis, tanpa memakai keris, atau hanya memakai kain/jarit tanpa baju. Sedangkan bagi wanita harus mengenakan kemben.
 
Perlu diketahui bahwa selama berziarah pengunjung tidak diperkenankan memakai perhiasan. Bagi para peziarah yang tidak mempersiapkan pakaian dimaksud dari rumah bisa menyewa pada abdi dalem sebelum memasuki komplek makam. Bagi kerabat istana khususnya putra-putri raja ada peraturan tersendiri, pria memakai beskap tanpa keris, puteri dewasa mengenakan kebaya dengan ukel tekuk, sedangkan puteri yang masih kecil memakai sabuk wolo ukel konde. Banyak pesohor-pesohor yang pernah berziarah ke makam ini bahkan biasanya sebelum Pemilu, para calon presiden maupun calon yang dipilih menyempatkan berziarah di makam ini.

Makam raja-raja Mataram tersebut memiliki bangunan dan situs yang sangat bersejarah. Keunikan dan kekhasan juga muncul dalam kompleks bangunan tersebut. Selain disuguhi hal-hal mistis dan bersejarah, makam raja-raja Mataram tersebut juga menyajikan pemandangan alam yang indah dan udara yang amat sejuk karena makam tersebut berada di puncak bukit. Kita dapat melihat hutan alami dan komponen biotik alami yang sangat menakjubkan dari puncak bukit di makam tersebut. Selain untuk kegiatan berziarah maupun berwisata, kompleks makam tersebut juga sering digunakan untuk kegiatan berolahraga, seperti halnya latihan fisik naik-turun tangga, berlari-lari naik-turun bukit, sekadar olahraga ringan, maupun kegiatan olahraga lainnya.

No comments:

Post a Comment

Berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Guntara Lane" dengan alamat www.guntara.com terimakasih!