Inilah 3 Amalan Keliru dalam Menyambut Tahun Baru Hijriyah - Guntara.com

Monday, 12 October 2015

Inilah 3 Amalan Keliru dalam Menyambut Tahun Baru Hijriyah

Sebentar lagi umat muslim di seluruh dunia akan menyambut tahun baru Hijriyah. Tahun Hijriyah acapkali dinomor duakan karena masyarakat global umumnya menggunakan penanggalan dengan kalender Tahun Masehi. Padahal bagi umat muslim, Tahun Hijriyah merupakan salah satu tonggak sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyerukan agama Allah. Namun akibat perkembangan zaman, alkulturasi budaya, dan pengaruh globalisasi, umat muslim sering melakukan amalan yang keliru dalam menyambut tahun baru Hijriyah. Berikut tiga amalan keliru dalam menyambut tahun baru Hijriyah:
Inilah 3 Amalan Keliru dalam Menyambut Tahun Baru Hijriyah www.guntara.com
Inilah 3 Amalan Keliru dalam Menyambut Tahun Baru Hijriyah
Amalan Pertama: Do’a Awal dan Akhir Tahun
Amalan tersebut sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali. Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyontohkan amalan tersebut, begitu pula dengan para sahabat, tabi'in dan ulama-ulama besar lainnya. Amalan tersebut tidak pernah dijumpai dalam kitab-kitab hadits. Mungkin di beberapa negara atau wilayah ada budaya terkait doa awal dan akhir tahun baik berupa suatu ritual atau upacara adat yang dikemas seakan-akan memiliki nilai ibadah. Budaya tersebut bisa jadi ciptaan seseorang dan jika ditelisik tetap tidak dituntunkan oleh Rosulullah. Jadi, sebaiknya amalan tersebut tidak perlu dilakukan. Umat muslim cukup berdoa seperti biasanya sebagaimana yang telah dituntunkan.

Amalan kedua: Puasa Awal dan Akhir Tahun
Adapula sebagian orang di belahan dunia ini yang melaksanakan puasa khusus pada awal dan akhir tahun Hijriyah. Puasa tersebut dilaksanakan pada akhir bulan Dzulhijjah dan awal bulan Muharram. Itulah yang dimaksud dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini:
“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun.”
Lalu bagaimana penilaian ulama pakar hadits mengenai riwayat di atas:
  1. Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.
  2. Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.
  3. Ibnul Jauzi dalam Mawdhu’at (2/566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.
Jadi, hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang tergolong lemah dan tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Hati-hati dalam menafsirkan sebuah hadits karena harus ditelaah dahulu kebenarannya. Oleh karena itu, tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.

Amalan Ketiga: Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah Secara Berlebihan
Memeriahkan tahun baru Hijriyah dengan berbagai perayaan seperti pesta kembang api, mengkhususkan dzikir jama’i, mengkhususkan shalat tasbih dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan lilin, memeriahkan dengan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat (mudharat), atau membuat pesta makan besar-besaran, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Penyambutan tahun Hijriyah semacam itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat lainnya, para tabi’in, dan para ulama sesudahnya. Orang-orang yang memeriahkan tahun baru Hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi kemeriahan tahun baru Masehi yang dirayakan oleh orang-orang kafir. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara tegas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”
Wallahu A'lam Bishawab, semoga artikel di atas dapat membawa manfaat dan pencerahan bagi umat muslim yang membacanya. Pada dasarnya, agama Islam adalah agama yang dinamis dan berlaku untuk setiap perkembangan zaman. Namun perkembangan zaman telah banyak mengotori akidah dan ibadah dalam agama Islam ini. Amalan-amalan di atas yang tidak ada tuntunannya dalam ibadah jika dikerjakan maka termasuk Bid'ah. Oleh karena itu, memurnikan agama Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah adalah Islam yang sebenar-benarnya. Dalam rangka untuk mengingat Allah, umat muslim dapat menyambut tahun baru Hijriyah dengan kegiatan-kegiatan positif yang membawa kebermanfaatan bagi orang lain selama tidak mengkhususkan suatu amalan atau ibadah dan tidak menyimpang dari Al-Quran dan As-Sunnah.

No comments:

Post a Comment

Berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Guntara Lane" dengan alamat www.guntara.com terimakasih!