Pemetaan Penggunaan Lahan dan Penutup Lahan dengan Citra Satelit - Guntara.com

Saturday, 13 April 2013

Pemetaan Penggunaan Lahan dan Penutup Lahan dengan Citra Satelit

Penutup lahan atau tutupan biofisik pada permukaan bumi yang dapat diamati dapat didefinisikan sebagai suatu hasil pengaturan, aktivitas, dan perlakuan manusia yang dilakukan pada jenis penutup lahan tertentu untuk melakukan kegiatan produksi, perubahan, ataupun perawatan pada penutup lahan tersebut [Standar Nasional Indonesia (SNI) 7645:2010, 2010]. Contoh penutup lahan yaitu, air, pasir, tanaman panenan, hutan, lahan basah, dan aspal [Jensen, 2005]. Sedangkan penggunaan lahan ialah segala macam campur tangan manusia, baik secara menetap ataupun berpindah-pindah, terhadap suatu kelompok sumberdaya alam dan sumberdaya buatan, yang secara keseluruhan disebut lahan, dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan baik material maupun spiritual, ataupun kedua-duanya [Rika Harini, 2005].
http://www.dephut.go.id/Halaman/Peta%20Tematik/Perbatasan/malinau.jpg
Sumber gambar : dephut.go.id
Pemanfaatan citra satelit untuk pemetan penutup lahan ataupun penggunaan lahan di Indonesia pada saat ini sudah banyak dilakukan, terutama untuk pemetaan pada skala tinjau dan semi detail. Hal ini disebabkan oleh resolusi spasial citra penginderaan jauh yang banyak beredar di Indonesia masih berkisar 10 meter ke atas. Di samping itu dengan menggunakan citra satelit dapat menghemat waktu dan tenaga serta lebih murah dibandingkan dengan survei langsung di lapangan. Namun untuk menjaga akurasi data yang dihasilkan, pekerjaan lapangan harus tetap dilakukan.

Salah satu citra penginderaan jauh yang banyak digunakan dalam pemetaan penggunaan lahan adalah citra SPOT, baik multispektral ataupun pankromatik. Keunggulan yang dimiliki oleh citra SPOT terletak pada desain sensornya yang berbentuk sapu dan dapat dikendalikan kemiringannya, sehingga memungkinkan dilakukan perekaman daerah yang sama dengan sudut pandang sensor yang berbeda untuk memperoleh gambaran stereoskopis.

Citra multispektral ialah citra satelit yang dibuat dengan saluran jamak. Berbeda dengan citra tunggal yang umumnya dibuat dengan saluran lebar, citra multispektral umumnya dibuat dengan saluran sempit. Dengan menggunakan sensor multispektral, maka kenampakan yang dilihat akan menghasilkan citra dengan berbagai saluran. Citra dengan saluran yang berbeda tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi kenampakan-kenampakan tertentu, karena saluran-saluran tersebut memiliki kepekaan berbeda-beda terhadap suatu kenampakan.

Keunggulan citra satelit multispektral dibandingkan citra spektrum tunggal (dan lebar) ialah adanya pembedaan obyek (penutup lahan) secara lebih baik, karena variasi pantulan pada satu spektrum yang relatif sempit dapat dipresentasikan. Sebagai contoh, pada citra pankomatik yang perekamanya dilakukan dalam julat yang lebar, (sekitar 0,5-0,73 µm), kecerahan air merupakan rata-rata tingkat pantulan pada beberapa spektral yang lebih sempit (0,5-0,6; 0,6-0,7 µm), yang sebenarnya cukup berbeda satu sama lainya. Dengan demikian, kecerahan ini dapat menyerupai pantulan jenis-jenis tanah tertentu. Keunggulan lain dari citra multispektral ialah dimungkinkanya pembentukan citra komposit, dimana tiga saluran-saluran spektral (band) masukan diberi warna merah, hijau dan biru, untuk membentuk satu citra tunggal yang bewarna. Satu citra komposit ini sudah mampu menyajikan variabilitas spektral seluruh saluran penyusunnya.

Sensor multispektral akan menghasilkan beberapa citra dengan saluran yang berbeda dan masing-masing memiliki variasi nilai spektral yang berbeda. Citra-citra tersebut akan menggambarkan berbagai variasi interaksi kenampakan objek dengan panjang gelombang yang digunakan. Satu citra mungkin akan sangat jelas menggambarkan vegetasi dengan mampu membedakan berdasarkan kerapatan namun lemah dalam menggambarkan kenampakan tanah, kemudian dari citra yang lain mungkin sebaliknya. Untuk melakukan perbandingan dari citra-citra tersebut akan sangat tidak efektif. Namun apabila digunakan saluran lebar, maka kenampakan keseluruhan justru tidak dapat dibedakan dengan baik. Sehingga untuk dapat membedakan kenampakan-kenampakan tersebut digunakan citra komposit, yaitu menggabungkan saluran dari banyak citra tersebut menjadi satu citra yang mampu membedakan kenampakan secara lebih baik.

Citra komposit dapat disusun secara standar atau tidak standar. Komposit standar menggunakan tiga saluran masukan, yaitu inframerah dekat, merah, dan hijau, dengan urutan pewarnaan merah, hijau dan biru (RGB-red, green, blue-dan urutan ini sering tidak disebutkan secara eksplisit). Komposit tidak standar dapat (a) mengubah urutan tersebut sesukanya-misalnya merah, inframerah dekat dan hijau dengan pewarnaa RGB, (b) menggunakan saluran-saluran lain-misalnya biru, inframerah dekat, dan merah dengan pewarnaan RGB, (c) menggunakan gabunan saluran terlebih dahulu (misalnya indeks vegetasi) dan setelah itu baru dikompositkan. Kerena citra komposit dapat disusun secara tak standar, maka tanpa informasi dari si pembuat atau pencetak citra tentang komposisi saluran penyusun citra komposit tersebut, seorang penafsir dapat terkecoh dan keliru dalam menginterpretasikannya.

Suatu landasan konseptual sangat dibutuhkan tentang bagaimana warna pada citra komposit tersebut dapat terbentuk. Untuk itu, pengenalan pola spektral pada masing-masing saluran penyusun diperlukan terlebih dahulu, sehinga sebelum melihat citra kompositnya pun seorang penafsir sudah dapat membayangkan, warna apa yang muncul mewakili satu jenis obyek apabila saluran-saluran tersebut disusun menjadi citra komposit dengan kombinasi tertentu.

Perbedaan penggunaan citra satelit dibandingkan dengan foto udara terletak pada teknik ektraksi informasi yang dapat dilakukan. Pada foto udara digunakan teknik interpretasi visual baik manual dan digital, sedangkan pada citra satelit disamping teknik tersebut dapat pula digunakan teknik ekstraksi informasi secara digital (transformasi citra maupun klasifikasi multispektral). Untuk interpretasi visual secara manual, biasanya pada foto udara dilakukan secara stereoskopis dengan menggunakan sepasang foto udara yang bertampalan, sedangkan untuk citra satelit cetakan (hard copy) dilakukan secara monoskopis.

Objek-objek penutup lahan maupun penggunaan lahan yang sudah terinterpretasi kemudian dikelompokkan ke dalam klas-klas berdasarkan persamaan dalam sifatnya, atau kaitan antara objek-objek tersebut disebut dengan klasifikasi. Menurut Malingreau (1978), klasifikasi adalah penetapan objek-objek kenampakan atau unit-unit menjadi kumpulan-kumpulan di dalam suatu sistem pengelompokan yang dibedakan berdasarkan sifat-sifat yang khusus berdasarkan kandungan isinya. Klasifikasi penggunaan lahan merupakan pedoman atau acuan dalam proses interpretasi apabila data pemetaan penggunaan lahan menggunakan citra penginderaan jauh. Tujuan klasifikasi supaya data yang dibuat informasi yang sederhana dan mudah dipahami.

Tabel: Klasifikasi Liputan Lahan/ Penggunaan Lahan Menurut Malingreau
Jenjang I
Jenjang II
Jenjang III
Jenjang IV
Simbol
1.   Daerah Bervegetasi
A.  Daerah Pertanian
1.   Sawah Irigasi
Si
2.   Sawah Tadah Hujan
St
3.   Sawah Lebak
Sl
4.   Sawah pasang surut
Sp
5.   Ladang/Tegal
L
6.   Perkebunan
-   Cengkeh
C
-   Coklat
Co
-   Karet
K
-   Kelapa
Ke
-   Kelapa Sawit
Ks
-   Kopi
Ko
-   Panili
P
-   Tebu
T
-   Teh
Te
-   Tembakau
Tm
7.   Perkebunaan Campuran
Kc
8.   Tanaman Campuran
Te
B.     Bukan Daerah Pertanian
1.      Huatan lahan kering
-   Hutan bambu
Hb
-   Hutan campuran
Hc
-   Hutan jati
Hj
-   Hutan pinus
Hp
-   Hutan lainnya
Hl
2.      Hutan lahan basah
-   Hutan bakau
Hm
-   Hutan campuran
Hc
-   Hutan nipah
Hn
-   Hutan sagu
Hs
3.      Belukar
B
4.      Semak
S
5.      Padang Rumput
Pr
6.      Savana
Sa
7.      Padang alang-alang
Pa
8.      Rumput rawa
Rr
II. Daerah tak bervegetasi
C.  Bukan daerah pertanian
1.   Lahan terbuka
Lb
2.   Lahar dan Lava
Ll
3.   Beting Pantai
Bp
4.   Gosong sungai
Gs
5.   Gumuk pasir
Gp
III. Permukiman dan lahan bukan pertanian
D.  Daerah tanpa liputan vegetasi
1.   Permukiman
Kp
2.   Industri
In
3.   Jaringan jalan
4.   Jaringan jalan KA
5.   Jaringan listrik tegangan tinggi
6.   Pelabuhan udara
7.   Pelabuhan laut
IV. Perairan
E.   Tubuh perairan
1.   Danau
D
2.   Waduk
W
3.   Tambak ikan
Ti
4.   Tambak garam
Tg
5.   Rawa
R
6.   Sungai
7.   Anjir pelayaran
8.   Saluran irigasi
9.   Terumbu karang
10.  Gosong pantai
Sumber: Malingreau, J.P. Rosalia Christiani, 1981 dalam Suharyadi (2001)

No comments:

Post a Comment

Berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Guntara Lane" dengan alamat www.guntara.com terimakasih!