Mendarat di Aceh, Tanah Penuh Perjuangan Kelahiran Ibunda - Guntara.com

Thursday, 27 April 2017

Mendarat di Aceh, Tanah Penuh Perjuangan Kelahiran Ibunda

Banda Aceh (27/04) Tidak pernah terbesit dibenak Ilham Guntara (22 tahun) untuk menginjakkan kaki di bumi "Serambi Mekkah" ini. Meskipun sekadar berkunjung di Provinsi Aceh tepatnya di Kota Banda Aceh tetapi perasaan yang begitu mendalam merasuk ke dalam jiwa dan raga Ilham. Inilah tanah kelahiran ibunda dari Ilham Guntara, pantas saja kalau ada perasaan berbeda setibanya di kota ini. Terlebih sebelumnya, selama ini telah diperdengarkan berbagai cerita kenangan masa lalu tentang Tanah Rencong oleh keluarga ibunda.
Mendarat di Aceh, Tanah Penuh Perjuangan Kelahiran Ibunda www.guntara.com
Mendarat di Aceh, Tanah Penuh Perjuangan Kelahiran Ibunda (gambar: republika.co.id)
Alhamdulillah selama 5 hari mulai dari 25-29 April 2017, Ilham berkesempatan berkegiatan di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Ilham diminta oleh salah satu NGO (Non Government Organization), Lestari Indonesia - USAID untuk membantu mempresentasikan dan mengisi pelatihan tentang Aplikasi Model GIS untuk Arahan Blok Suaka Margasatwa dalam rangka Pengelolaan Kawasan Konservasi. Alhamdulillah Ilham mendapat kepercayaan untuk bekerja di bidang konservasi alam di Indonesia.

Setengah abad yang lalu, ibunda dilahirkan di kota ini. Selang tidak lama kemudian masih dalam umur balita, ibunda dikembalikan lagi ke Bantul (Yogyakarta). Momen begitu cepat tercipta, bisa dikatakan ibunda hanya menumpang lahir di Aceh tetapi itulah kenyataan yang tidak bisa dibantah.

Saat itu sekitar tahun 1965-an, kakek menjalani tugas militer pertama di Kota Banda Aceh, Daerah Istimewa Aceh (nama provinsi kala itu). Kakek membawa serta nenek dan kedua anaknya pada waktu itu. Ibunda adalah anak ketiga yang dengan sangat beruntungnya dilahirkan di Aceh, tepatnya di Klinik Muhammadiyah Banda Aceh, berjarak sekitar 100 meter ke arah selatan dari Masjid Raya Baiturrahman. 

Atas permintaan nenek buyut (ibunya nenek), ibunda yang masih anak kecil dibawa pulang ke Bantul (Yogyakarta) untuk menemani sekaligus diasuh oleh nenek buyut yang kala itu tinggal sendirian di rumah. Akhirnya ibunda harus menjalani hubungan jarak jauh (long distance relationship) dengan orang tua dan saudara kandungnya sedari kecil, Masyaallah.

Bayangkanlah pada saat itu tahun 1970-an, peralatan transportasi dan komunikasi masih jauh dari modern. Orang tua dan saudara kandung tinggal di Aceh, ujung Indonesia paling barat, sedangkan ibunda tinggal di Bantul (Yogyakarta) bersama neneknya. LDR ini berjarak sekitar 2.910 km berdasarkan perhitungan Google Maps, Subhanallah.

Oleh karena itu, Ilham menyebut tanah kelahiran ibunda ini sebagai tanah penuh perjuangan. Penuh perjuangan ketika keluarga kakek-nenek bertata kehidupan di sini, penuh perjuangan ketika ibunda dalam kandungan dan dilahirkan di sini, dan penuh perjuangan pula ketika ibunda harus menahan beban LDR 2.910 km dengan orang tua dan saudara kandungnya sedari kecil. Memang tidak lama mungkin hanya 10 tahun tetapi bagi anak yang masih kecil itu merupakan waktu vital yang sangat berharga. sekitar tahun 1980-an, keluarga kakek-nenek dipindahtugaskan ke Bantul (Yogyakarta), Alhamdulillah artinya pulang ke kampung halaman. 

Entahlah Ilham tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan pada waktu itu yang tentu penuh perjuangan. Alhamdulillah, rasa syukur yang begitu luar biasa Ilham panjatkan kepada Allah karena bisa kembali lagi ke tanah kelahiran ibunda setelah 50 tahun berlalu. Tentu banyak perubahan yang terjadi di Serambi Mekkah ini selepas keluarga kakek-nenek bertata kehidupan di sini. Namun kenangan-kenangan yang penuh perjuangan itu akan selalu tersimpan dalam memori keluarga kakek-nenek. 

No comments:

Post a Comment

Berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Guntara Lane" dengan alamat www.guntara.com terimakasih!