Organisasi, Antara Pengabdian dan Kekuasaan (Kisah Nyata) - Guntara.com

Sunday, 11 January 2015

Organisasi, Antara Pengabdian dan Kekuasaan (Kisah Nyata)

Selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa dan selalu ada cerita menarik di balik peristiwa tersebut. Cerita susah, senang, bahagia, dan sedih selalu tercipta dalam setiap momen peristiwa-peristiwa tersebut. Saat ini, aku (Ilham Guntara, 20 tahun) kembali dihadapkan dengan berakhirnya masa jabatan dan pengabdianku di organisasi. Pekan ini, aku resmi demisioner dari dua organisasi kampus, tidak ada ucapan lain selain terima kasih kepada BEM FGE UGM dan STARGIS UGM yang telah memberi warna dalam hidupku.
Organisasi: Antara Pengabdian dan Kekuasaan www.guntara.com
Organisasi: Antara Pengabdian dan Kekuasaan
Dahulu aku adalah orang yang apatis, pasif, cuek, pendiam, dan acuh tak acuh. Mungkin sikap-sikap kotor itu masih melekat dan tersisa di ragaku hingga detik ini. Namun, semua mulai luruh saat aku menginjak bangku SMA. Bangku SMA telah mengukirkan banyak cerita di hati ini dan salah satu cerita yang membekas adalah bangku SMA telah mengajariku bagaimana cara berorganisasi. Masa SMP-ku yang kelam dengan balutan sifat-sifat kotor itu pun mulai tercuci bersih sedikit demi sedikit. Aku mulai membuka mata dan mengikuti organisasi di SMA. Aku terpedaya dengan pencitraan kakak-kakak kelas saat MOS (Masa Orientasi Siswa) yang menunjukkan bahwa berorganisasi itu menyenangkan dan dapat mengasah kemampuan diri.

Tanpa ampun di semester 1 kelas X (sepuluh) SMA, aku langsung diterima di 3 organisasi. Masih ingat benar bagaimana proses seleksi masuk organisasi di SMA yang sangat ketat, mulai dari tes tertulis lalu diseleksi lagi melalui praktik dan wawancara yang dikeroyok banyak senior. Seakan menjadi ajang semiperploncoan senior kepada junior pada waktu seleksi itu. Sebenarnya aku berpotensi menambah menjadi 5 organisasi, tetapi karena kondisi fisikku yang saat itu kurang baik sehingga mengurungkan niatku untuk mengikuti seleksi pada calon organisasiku yang keempat dan kelima. Sama sekali tidak ada modal pengalaman aku masuk ketiga organisasi tersebut, tetapi tekadku kuat untuk belajar dan mengabdi di organisasi tersebut. Prinsipku satu, yaitu bermanfaat bagi orang lain dan tidak membuang-buang dengan percuma waktu luangku.

Tahun pertamaku cukup spesial karena diamanahi menjadi Ketua II di salah satu organisasi yang bergerak di bidang Teknologi Informasi. Padahal bekalku masih sangat minim pada saat itu, aku belum lihai desain grafis, aku pun tidak tahu-menahu soal pemrograman web atau komputer, dan jarang bersentuhan dengan dunia fotografi. Namun sepertinya seniorku pandai membaca situasi dan tahu kalau aku mempunyai minat dan tekad yang sangat besar untuk mengembangkan kemampuan di bidang Teknologi Informasi tersebut. Amanahku di dua organisasi lainnya terbilang standar pada umumnya.

Tahun pertama berorganisasi, aku termasuk cukup rajin dan cukup amanah dalam kegiatan-kegiatan di organisasi tersebut. Aku hampir mengikuti semua kegiatan tanpa absen, aku merelakan pulang sore setiap hari, aku merelakan waktu luangku, aku merelakan waktu liburku yang saat itu hanya hari Minggu dan hari-hari libur nasional lainnya. Aku bukanlah orang yang aktif berbicara di depan forum dan mengutarakan banyak gagasan pendapat di muka umum. Aku bukan juga orang yang sengaja mencari perhatian dan pencitraan di depan yang lain agar aku bisa terkenal atau menjadi sosok yang besar. Aku masih cenderung pendiam dan pemalu tetapi aku mempunyai tekad untuk terus bekerja dan membantu dengan aksi nyata apa yang bisa aku lakukan pada waktu itu.

Tahun keduaku cukup mendebarkan karena mengajariku banyak hal khususnya tentang perbedaan antara pengabdian dan kekuasaan. Tahun tersebut aku diproyeksikan menjadi ketua umum organisasi yang bergerak di bidang Teknologi Informasi (TI). Pemilihan ketua di organisasi tersebut tidak dilakukan secara pemungutan suara tetapi ditunjuk oleh ketua umum periode sebelumnya dengan aklamasi oleh forum yang hadir. Namun di saat yang sama, organisasi tertinggi di SMA yaitu OSIS juga memanggilku. Proses pemilihan ketua di OSIS lebih rumit, mulai dari pendaftaran calon ketua, verifikasi, wawancara, penetapan calon, pemaparan visi-misi, debat, hingga puncaknya proses pemungutan suara oleh seluruh warga SMA. SMA-ku adalah salah satu SMA favorit di Yogyakarta dan SMA terbaik di Kabupaten Bantul.

Tidak pernah sebelumnya terlintas di pikiranku untuk mendaftarkan diri menjadi calon ketua OSIS. Aku belum mempunyai kemampuan memimpin dengan baik dan aku belum mempunyai kemampuan berbicara di depan umum yang baik pula. Namun banyak teman-temanku dan kakak kelasku yang mendorongku untuk maju mendaftarkan diri menjadi calon ketua OSIS dengan alasan menurut mereka aku selama ini cukup rajin dan cukup amanah dalam setiap kegiatan berorganisasi serta ada poin yang sangat penting. Poin itu adalah mereka tidak ingin jika yang menjadi ketua OSIS kelak ialah ketua II OSIS di mana ketua II OSIS pada waktu itu adalah teman seangkatanku, sebut saja Semangka. Menurut mereka Semangka memiliki perilaku celelekan, agak ugal-ugalan, dan kurang bertanggungjawab. Akhirnya aku pun bersedia mendaftarkan diri menjadi calon ketua OSIS tetapi aku hanya ingin menjadi Ketua I OSIS (wakil ketua) bukan menjadi Ketua Umum OSIS berhubung proses pemilu ketua OSIS di SMA-ku menggunakan format berpasangan ketua-wakil ketua seperti pemilu presiden-wakil presiden Indonesia.

Saat wawancara calon ketua OSIS, ketua dan wakil ketua OSIS pada waktu itu terus membujukku agar mau jadi calon ketua umum bukan hanya calon ketua I karena yang diproyeksikan menjadi pasanganku belum berpengalaman di OSIS. Aku sudah menolak dengan berbagai alasan tetapi melalui sholat Istikharah akhirnya aku bersedia menjadi calon ketua umum. Aku dipasangkan dengan Durian (bukan nama sebenarnya) sedangkan Semangka juga maju mencalonkan dipasangkan dengan Tulip (bukan nama sebenarnya) dan ada satu pasangan calon lagi yaitu Dahlia dan Cempaka (bukan nama sebenarnya). Proses pemasangan calon-calon tersebut juga penuh konspirasi oleh campur tangan kakak-kakak kelas dan MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas). Aku berada di posisi yang sangat menguntungkan karena dipasangkan dengan laki-laki sementara Semangka dipasangkan dengan perempuan dan calon pasangan ketiga perempuan semua. Pencalonanku tersebut otomatis menggugurkanku untuk menjadi ketua umum organisasi bidang TI tersebut, ketua umum organisasi tersebut pun mendukung pencalonan diriku menjadi ketua umum OSIS dan dia sudah memilih calon ketua umum organisasi bidang TI penggantiku.

Proses pemilu ketua OSIS kujalani dengan senang hati mulai dari pemaparan visi-misi, debat, hingga pemungutan suara. Namun berbeda dengan Semangka, dia tampak tidak niat dan kurang bertanggungjawab menjalani rangkaian pemilu, saat debat pun dia tidak hadir dan lebih mementingkan acara pribadinya. Hasil pemilu ketua OSIS di luar dugaanku aku dan pasanganku menang telak dari pasangan yang lain, dalam hatiku ternyata banyak teman-teman yang mendukung dan mempercayai kami. Kejanggalan-kejanggalan mulai muncul saat aku dan Durian dinyatakan sebagai ketua-wakil ketua OSIS terpilih. Pendukung-pendukung dan komplotan Semangka tidak terima dengan hasil tersebut, sebut saja Geng Tikus. Komplotan Semangka menghendaki Semangka dan Durian yang memimpin OSIS bukan aku dan Durian, pada surat suara pun banyak coret-coretan dan maki-makian terhadapku. Menurut mereka, aku adalah orang yang sok suci, sok kalem, banyak kekurangan, serta tidak akan bisa memimpin dan mengayomi semua golongan di SMA dengan baik. Aku memang ikut organisasi kerohanian Islam pada waktu itu dan mungkin salahku juga hanya bergaul dengan teman-teman golongan "baik" tetapi kurang menggauli teman-teman golongan "belum baik / masih nakal".

Saat aku memimpin sebagai panitia pesantren kilat di SMA, Geng Tikus pun mencari-cari kesalahanku. Mulai dari sedikit membuat onar saat berbuka puasa dengan mencuci piring di kolam ikan, hingga memarah-marahiku karena aku dan teman-temanku dituduh mengintip ruang tidur perempuan saat pesantren kilat. Tuduhan itu sungguh tidak benar, malam hari itu ruang tidur perempuan sangat gaduh padahal sudah waktunya istirahat malam. Aku dan teman-teman sepakat untuk mendatangi dan menegur di depan ruang tidur mereka agar lekas istirahat, sama sekali tidak ada insiden pengintipan, hanya sekadar menegur dari luar ruangan. Mengapa yang melakukan sweeping panitia laki-laki karena panitia yang perempuan sudah terlelap.

Geng Tikus pun mengancam jika aku yang menjadi ketua umum OSIS maka mereka akan memboikot semua kegiatan dan acara OSIS. Seakan-akan dalam pikiran mereka sudah terkristalisasi bahwa seharusnya Semangka dan Durian yang memimpin OSIS sesuai skenario mereka sebelumnya tetapi kenyataannya malah aku yang dipasangkan dengan DUrian dan aku (dan Durian) yang menang. Keanehan lain pun mulai muncul, teman-teman yang sebelumnya mendukungku mulai berubah menjadi mengkritikku dan menuntutku untuk mengubah sifatku seperti ini dan seperti itu. Aku memang seperti ini apatis, pasif, cuek, pendiam, dan acuh tak acuh tetapi mereka tidak peduli dan memintaku untuk mengubah sifat-sifat tersebut hanya dalam tempo kurang dari satu bulan. Mana mungkin, gila apa aku bisa mengubah sifat secepat itu, harusnya biarkan aku berproses dulu karena dalam hatiku sudah mempunyai niat dan tekad yang kuat untuk belajar menjadi yang lebih baik.

Segala tekanan yang menghujam hati dan pikiranku membuatku tidak berdaya untuk memenuhi semua tuntutan-tuntutan itu. Akhirnya jatuh tempo, suatu malam teman-temanku itu menemuiku lalu mereka menyatakan bahwa aku tidak bisa memenuhi tuntutan mereka dan waktuku sudah habis, sudah saatnya aku menerima konsekuensi. Mereka secara halus memintaku untuk menyatakan mundur sebagai ketua umum OSIS terpilih supaya keadaan siswa di SMA lebih kondusif dan Geng Tikus tidak melahirkan keonaran-keonaran baru.Terbenak dalam hatiku, mengapa aku harus mundur, aku sudah berusaha keras selama ini dari awal hingga akhir, aku pun sama sekali tidak melakukan kecurangan, dan aku memenangkan pemilu dengan adil. Namun ternyata pikiran itu terlalu egois bagiku, seakan aku hanya berambisi mendapatkan kekuasaan tanpa pikir panjang akibat-akibat di sekitar yang akan terjadi.

Sebenarnya apa tujuanku berorganisasi selama ini? Jiwaku bergoncang dan bergejolak dengan hebat pada waktu itu. Seakan-akan ada dua jiwa yang saling berperang dalam hatiku. Hidayah Allah akhirnya muncul dan menyadarkanku bahwa tujuanku berorganisasi selama ini untuk mengabdi sesuai prinsipku yaitu bermanfaat bagi orang lain. Aku tidak untuk mencari kekuasaaan. Buat apa aku berkuasa menjadi ketua umum OSIS tapi tidak didukung oleh rekan kerja dan siswa-siswa lainnya. Aku cinta OSIS ini, aku dibesarkan dan diajarkan banyak hal di sini. Kalau aku cinta OSIS, aku harus rela berkorban agar OSIS tetap damai dan siswa-siswa SMA tetap kondusif. Pengorbanan tersebut adalah aku menyatakan mundur sebagai ketua umum OSIS terpilih pada malam itu dengan tulus dari hati yang terdalam.

Teman-temanku menerima pernyataan mundurku dan mereka memberi opsi Durian untuk menjadi ketua umum OSIS atau menunjuk orang lain menjadi ketua umum dan Durian tetap menjadi ketua I (wakil ketua), pada malam hari itu juga harus diputuskan. Durian akhirnya menunjuk Semangka menjadi ketua umum OSIS, ini sesuai harapan Geng Tikus. Aku tidak peduli meskipun di mataku dan di mata teman-temanku Semangka kurang berkompeten tetapi demi terciptanya OSIS yang damai serta siswa-siswa yang kondusif lagi, keputusan ini harus diterima. Bagiku berorganisasi itu bukan mencari kekuasaan, berorganisasi itu mengabdi di mana pun posisi jabatan kita, kita berusaha memberi yang terbaik untuk kemajuan organisasi. Aku mundur bukan berarti aku menyerah. Pemimpin-pemimpin di dunia pun banyak yang mengundurkan diri supaya tercipta pemerintahan yang damai dan rakyat yang kondusif.

Meskipun posisiku saat itu sudah bukan ketua umum dan Semangka yang akhirnya dilantik sebagai ketua umum OSIS, aku tidak lantas mundur dari OSIS. Aku tetap mengabdi di OSIS sebagai koordinator bidang V tentang organisasi dan kepemimpinan. Pengabdian itu di posisi mana saja, tidak harus menjadi ketua, yang penting kita saling bekerja, mendukung,dan melengkapi ketua kita dengan segala kekurangan yang dia miliki. OSIS pada tahun 2010/2011 itu pun berjalan sangat mulus dan membanggakan. Kami mampu melaksanakan acara-acara besar dengan sukses, kami mampu ikut serta meningkatkan prestasi siswa-siswa SMA, dan puncaknya pada pentas seni tutup tahun kami mampu menghadirkan grup band papan atas D'Masiv dengan gratis karena kami memenangkan suatu kompetisi yang digelar suatu produk. Tidak perlu dilihat ketua umumnya siapa dan seperti apa, memang menurut penilaian pengurus OSIS, sang ketua umum tidak lebih baik dari yang diharapkan. Namun, yang terpenting OSIS tetap damai dan siswa-siswa SMA tetap kondusif, kami di sini bekerja bersama dengan kompak dan sepenuh hati, serta tidak tergantung pada sosok ketua.

Cerita-cerita di atas tentu sangat memengaruhi sikapku saat berorganisasi di kuliah. Saat di BEM FGE UGM maupun di STARGIS UGM, aku lebih berhati-hati. Maafkan aku, aku cenderung pendiam dan beberapa kali sering tidak hadir kegiatan tetapi aku tetap tahu banyak hal dan aku tetap bertanggungjawab atas tugas-tugasku. Aku tidak ingin mencari-cari perhatian maupun melakukan pencitraan kepada orang-orang di sekitarku untuk meraih suatu tujuan. Aku lebih suka menunjukkan karya-karya nyataku dalam diamku agar bisa menginspirasi banyak orang. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang, aku tidak ingin ambisiku yang berlebihan kembali muncul dan membawa petaka bagi organisasiku serta teman-temanku. Aku tidak ingin didikte sekelompok orang untuk merebut suatu kekuasaan. Keinginan memimpin itu dari hati bukan dari kepentingan orang lain. Ingatlah, berorganisasi itu bukan mencari kekuasaan tetapi berorganisasi itu mengabdi dengan sepenuh hati! Nantikan cerita-ceritaku selanjutnya, tetap semangat dan yakinlah selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa.

2 comments:

  1. jadi gini ceritanya, selama bertahun-tahun saya masih bertanya-tanya tentang pengunduran diri calon ketua tepilih. Terima aksih atas sharing pengalamannya, semoga dapat menyadarkan lebih banyak orang mengenai perbedaan mengabdi dan mencari kekuasaan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kurang lebih seperti itu saudaraku :) Saya sadar masih banyak kekuranga dalam diri ini. Sama-sama semoga dapat menginspirasi dan bermanfaat bagi yang lain :D

      Delete

Berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Guntara Lane" dengan alamat www.guntara.com terimakasih!