Mabit di Waduk Kedung Ombo

10:30:00
Jiwa berpetualang dan menikmati keindahan ciptaan Allah tidak pernah mati dari beberapa Alumnus SMA Negeri 1 Bantul tahun 2012 ini. Mereka tergabung dalam Saba Mabitter Community (SMC). Selain Alumnus SABA (SMA Negeri 1 Bantul), mereka juga terdiri dari Alumnus pengurus organisasi-organisasi di SABA. Ada yang merupakan alumnus pengurus OSIS, pengurus MPK, pengurus ROHIS, pengurus SABA EXPLOIT, pengurus TONTI, pengurus AMBALAN, dan pengurus PMR. Walaupun kini mereka sudah merantau di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, tetapi SMC tetap bisa berpetualang dimanapun dan kapanpun.
Ilham Guntara Berkelana Mabit di Waduk Kedung Ombo
Ilham Guntara Berkelana Mabit di Waduk Kedung Ombo
Tujuan Mabit kali ini adalah Waduk Kedung Ombo yang berada di tiga kabupaten Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Grobogan, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Boyolali. Maklum waduk ini cukup besar dan termasuk dalam mega proyek era Presiden Soeharto. Terlebih dahulu kita singgung bahwa Mabit adalah kepanjangan dari Malam Bina Iman dan Takwa. Dimana tujuan dari ekspedisi ini diharapkan meningkatkan keimanan dan rasa syukur kita kepada Allah Swt.
Mabit di Kedung Ombo
Tim SMC untuk Mabit tanggal 28-29 Januari 2013 kali ini terdiri dari 10 ikhwan (laki-laki) Alumnus SABA tahun 2012. Mereka adalah Jundy Makhshuddien (Teknik Elektro/UAD), Muhammad Asad N. H. (Kehutanan/IPB), Budi Setyawan (Teknik Mesin/UGM), Darpito Nugroho (Pend. BK/UNY), Lukman Primadi (PGSD/UNY), Annas Nur Fadhila (Pend. B. Ing/UNY), Angga Pradana (Peternakan/UNS), Ginanjar Wahyudianto (PGSD/UNS), Satrio Endra Gemilang (Teknik Mesin/ITS), dan Ilham Guntara (Penginderaan Jauh dan SIG/UGM).
Mabit
Perjalanan dimulai dari rumah Jundy di Imogiri, Bantul pukul 09.00 (28/01). Semua perlengkapan sudah dipersiapkan sedemikian rupa dan doa bersama pun sudah dipanjatkan untuk segala keselamatan. Rombongan 10 laki-laki ini terbagi dalam 5 motor yang mana saling berboncengan satu sama lain. Dimulai dari menyusuri Jalan Imogiri Timur sampai melintasi Ring Road Yogyakarta lalu sampailah menyusuri Jalan Yogya-Solo sampai habis. Banyak ranjau-ranjau dilewati ketika berada di Jalan Yogya-Solo, yaitu ranjau lubang-lubang aspal di jalan. Sungguh sensasi tersendiri rasanya. Ketika sampai di Kabupaten Boyolali, kami sempat kehilangan arah. Kami pun mengaktifkan alat GPS untuk membantu perjalanan kami. Sejenak kami beristirahat  sholat Dzuhur dan makan siang di masjid di Kabupaten Boyolali.
Mabit
Kami pun melanjutkan perjalanan. Sang navigator, Ilham Guntara berusaha menggunakan disiplin ilmunya untuk menemukan jalan terbaik menuju Waduk Kedung Ombo dengan memakai GPS. GPS pun menunjukkan jalan-jalan kecil yang amat tidak halus dan penuh tantangan. Seakan nlusup-nlusup atau blusukan. Namun akhirnya sampailah di jalan utama yaitu Jalan Raya Solo-Purwodadi. Sang Driver Leader, Satrio Endra Gemilang pun memacu motornya memimpin teman-teman yang lain untuk melintasi jalan ini. Perlu kalian ketahui bersama bahwa Jalan Raya Solo-Purwodadi adalah jalan yang sangat jelek, dimana terdapat berbagai ranjau lubang di kanan-kiri bagian jalan, ternyata masih ada jalan separah ini untuk jalan lintas kabupaten. Dari Kabupaten Karanganyar, kemudian menuju Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Grobogan.
Mabit
Perdebatan sempat terjadi di antara kami mengenai pemilihan tempat berkemah. Ada suara yang mengatakan di Obyek Wisata Kedung Ombo dan ada pula suara yang mengatakan di tempat lain yang agak pelosok tapi tetap di pinggir Kedung Ombo. Jotos-jotosan di antara kami pun sempat dihindari. Lalu kami pun menyurvai kedua titik tersebut. Di Obyek Wisata Kedung Ombo lokasinya sudah ramai, penuh bangunan, penuh penjual, dan sangat beradab. Sementara di lokasi satunya masih terbilang alami, di pinggir waduk, dan biadab (tiada peradaban). Kami pun memilih tempat biadab itu sebagai markas kemah kami. Tempat biadab itu dikenal sebagai Jatinonggo.
Mabit
Sesampainya di tempat itu. Memang biadab sekali, tiada sumber air lain selain waduk, hanya hamparan bukit yang berjagung-jagung dan bersemak belukar, tetapi sangat alami. Dan inilah tantangan yang kami cari. Kami bersihkan lokasi tersebut lalu kami dirikan tenda-tenda tapii bukan tenda pengungsian banjir. Ada dua tenda besar dan tenda kecil. Hari pun sudah Maghrib, kami lanjutkan sholat Maghrib-Isya di alam terbuka sambil yang lain memasak air untuk keperluan minum yang hangat-hangat.
Mabit
Tragedi yang ditakutkan pun terjadi. Mendung gelap dan hujan menghantam kami. Dimulai dengan angin yang begitu kencang yang sempat mendoyongkan tenda-tenda kami dilanjutkan dengan hujan berintensitas sedang. Kebocoran pun tidak terbendung, beruntung tidak banjir seperti Jakarta jadi kami masih bisa beraktivitas dengan selamat. Malam harinya datang tiga orang senior, beruntungnya mereka tidak memalak atau membully kami, mereka datang dengan damai untuk menemani kami. Sungguh baik ketiga kakak-kakak itu, mereka adalah Andi Wijaya, Nur Huda W. Y., dan Eko Sugiarto. Mereka juga Alumnus SABA dan mereka adalah orang yang baik-baik. Jadi, kami merasa tenang dan aman.
Mabit
Tengah malam itu ketika hujan mulai berintensitas rendah, kami pun membakar tapi bukan membakar tenda melainkan membakar jagung yang telah kami bawa dari rumah. Walaupun sebenarnya di sekitar lokasi banyak jagung-jagung yang tertanam, tetapi kami terlalu baik untuk mencurinya. Keindahan Alam ciptaan Allah pun kami saksikan malam itu, bagaimana petir dengan indahnya menghiasi langit Kedung Ombo dengan motif-motif yang sangat indah seperti pada film-film mancanegara. Subhanallah, Maha Suci Allah.
Mabit
Keesokan harinya (29/01) kami pun disuguhkan dengan keindahan matahari terbit dan keindahan waduk Kedung Ombo ketika pagi hari, lagi lagi Subhanallah. Kuasa Allah atas segala isi di bumi. Alhamdulillah, kami bersyukur masih bisa menikmatinya. Kegiatan pagi dimulai dengan berdzikir bersama yang dipimpin Eko Sugiarto lalu kegiatan memancing. Dimana Nur Huda dan Lukman Primadi sangat berambisi untuk mendapatkan ikan. Darpito, Asad, Budi, dan Andi pun ikut-ikutan memancing. Tetapi ternyata sia-sia saja perjuangan mereka. Di sisi lain Satrio, Annas, Jundy, Angga, Eko, Ilham, dan Ginanjar yang sudah menebak kalau tiada ikan satupun yang akan didapatkan, mereka pun memasak mie untuk sarapan pagi dengan meninggalkan ke enam temannya yang memancing. Sungguh ironi, tapi inilah kerasnya hidup dimana kelaparan mengahantui kami. Beberapa teman kami yang asyik memancing pun terpaksa menggunakan air waduk yang cukup kotor sebagai bahan memasak mie. Inilah hidup di alam, apapun termakan. Selesai sarapan pagi, kami pun bergegas mengemasi barang, tenda, dan merapikan lokasi.
Mabit
Semua rapi dibereskan dan semua terkemas, kami pun memutuskan untuk pulang ke kampung halaman kami, Bantul. Pukul 09.00 kami memulai perjalanan pulang, melewati jalan yang sama seperti saat datang tetapi kali ini melewati tengah kota Solo. Pada waktu Dzuhur kami sempat singgah di masjid di Kabupaten Klaten. Lalu dilanjutkan dengan pulang ke Bantul dan pulang ke rumah masing-masing.
Mabit
Sungguh perjalanan yang luar biasa. Menguras energi karena kami duduk di atas motor berjam-jam dengan medan yang lumayan kasar. Kelelahan pun mendera kami. Namun, kami sangat senang dan bersyukur atas perjalanan kali ini. Ini adalah liburan kuliah kami, ini adalah jalan kami untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, dan ini adalah derita kami! Hahaha.... Sampai jumpa diperjalanan kami selanjutnya!
Ilham Guntara Melaksanakan Mabit
Ilham Guntara Melaksanakan Mabit

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Guntara Lane" dengan alamat www.guntara.com terimakasih! EmoticonEmoticon