Petualanganku Menjadi Tukang Parkir Bantul Expo 2012 - Guntara.com

Friday, 27 July 2012

Petualanganku Menjadi Tukang Parkir Bantul Expo 2012

Liburan telah membuatku bosan. Tanpa sekolah, tanpa kegiatan, dan tanpa pekerjaan, itulah yang aku rasakan selama kurang lebih tiga bulan ini. Seusai UN SMA pada pertengahan April 2012 sampai saat ini, otomatis aku sudah tidak resmi masuk sekolah lagi dan masih menunggu kurang lebih dua bulan lagi pada awal September 2012 mendatang aku baru akan masuk kuliah. Itulah yang terlintas dalam batinku, Ilham Guntara (17 tahun) saat ini.

Beruntung lingkungan masyarakat ini menerimaku. Semenjak kepindahanku ke ranah Dusun Gabusan pada September 2011 yang lalu, aku diterima baik di sini. Aku pun mendapat sambutan yang baik dari Ikatan Pemuda Gabusan (IPEGA). Dimana aku langsung direkrut di dalamnya dan dalam acara-acara lomba menyambut tujuhbelasan kemarin aku langsung dipercaya menjadi komentaror dan MC pertandingan. Padahal aku belum begitu mengenal orang-orang di Dusun ini. Barangkali karena ini adalah Dusun dimana bapakku lahir dan tinggal lebih dari 30 tahun sebelum beliau menikahi ibukku, jadi seakan aku kembali ke tempat yang tidak asing lagi bagiku.

Tanggal 7 - 14 Juli lalu diselenggarakan Bantul Expo 2012 di Pasar Seni Gabusan (PSG). Dimana PSG berada tepat di wilayah dusun kami. Kali ini aku dan teman-temanku IPEGA dipercaya untuk mendirikan parkir Bantul Expo 2012, tepatnya di bagian terminal PSG (bagian utara PSG tepi jalan).

Terlintas dalam pikiranku bahwa aku belum pernah sekalipun menjadi tukang parkir, aku belum pernah latihan parkir, bahkan aku pun belum pernah kuliah di jurusan parkir. Entah Universitas macam apa yang membuka jurusan Tekni Perparkiran ataupun Ilmu Parkir.

Kuberpikir kalau ini bisa sebagai sarana mengisi waktu liburan membosankanku. Parkir hanyalah bermodal fisik, rajin, dan ketelatenan. Aku memulai bertugas menjadi juru parkir dari hari pertama.

Sebenarnya aku dan beberapa teman yang lain hanya dijatah miniman parkir semalam sekali sesuai jadwal. Namun berhubung aku sangat luang waktu, maka kuputuskan untuk kuusahakan datang setiap siang dan malam. Untuk jatah siang selama delapan hari itu aku hanya absen sekali, itupun ketiga aku sedang pergi mengantar tasyukuran khitanan adikku ke rumah pacarku di Kulon Progo. Selebihnya aku selalu berangkat. Untuk jadwal malam hari, alhamdulillah aku selalu berangkat.

Dalam tugasku menjadi tukang parkir ini, aku sering maju-mundur. Maju ke depan menjadi petugas loket bahkan maju ke depan lagi menjadi pengatur jalan. Maklum parkir kami di tepi Jalan Parangtritis, ini jalan daerah pastinya sangat ramai apalagi saat liburan, puluhan bus pariwisata melewatinya. Ketika aku bertugas mundur ke belakang, aku mengatur kerapian motor. Ini cukup sulit dan membutuhkan stamina dan tenaga untuk merapikan motor-motor si parkir. Hal yang paling menyebalkan ketiga bertugas di depan adalah ketika motor sudah akan masuk tetapi tidak jadi parkir, sedangkan hal yang paling menyebalkan di belakang adalah ketika motor dikunci stang membuat kami sangat kesulitan merapikannya. Sangat senang ketika siang hari pun tersedia makanan dan minuman, apalagi ketika malam tersedia makanan dan minuman plus makan malam, entah itu sate, nasi goreng, atau pecel lele pasti tersedia salah satunya setiap malam.

Alhamdulillah, aku sangat bersyukur dengan aku menjadi tukang parkir selama delapan hari ini. Aku bisa lebih mengenal teman-temanku IPEGA. Maklum aku kan pendatang baru dan pemain baru yang baru direkrut IPEGA. Dalam petualang parkir kali ini aku juga diajarkan kesabaran, ketekunan, kerapian, dan hal-hal positif lainnya. Tentunya dengan pengalaman ini, aku jadi tahu kalau bekerja itu memang berat, susah, dan penuh jerih payah. Betapa hebatnya orang tua kita yang bekerja selama ini demi keluarga kita. Alhamdulillah juga, walaupun parkir dari siang jam 13.00 sampai malam jam 23.00 aku tetap bisa menjalankan ibadah sholatku lima waktu walaupun tidak sempat semuanya jamaah di masjid seperti biasanya.

Nah, seusai perhelatan parkir selesai. Inilah yang aku tunggu-tunggu, yaitu pembagian honor parkir. Dengan biaya parkir per motor Rp 2.000 selama delapan hari ini tentunya kami IPEGA mendapat pemasukan yang alhamdulillah cukup banyak. Sebagian uang kami setor ke Paguyuban Warga Gabusan (PWG), sebagian untuk keperluan konsumsi, sebagian masuk kas IPEGA, dan sisanya untuk honor kami para tukang parkir. Setiap anggota IPEGA yang berangkat akan mendapat honor atau gaji sesuai dengan jumlah keberangkatannya dan kinerjanya. Dan alhamdulillah, kali ini aku bisa meraup honor sekitar Rp 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah). Lumayan bisa menambah tabungan dan aku anggap saja sebagai hasil pekerjaan part time -ku sebagai tukang parkir. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur pasalnya selama liburan aku pun jarang mendapat uang jajal dari orang tua. Inilah petualanganku kali ini. Semoga bisa dilanjut dengan petualangan yang lebih seru berikutnya! Amin!

No comments:

Post a Comment

Berikan komentar terbaik atau pertanyaan untuk artikel di atas dan tetap setia mengunjungi "Guntara Lane" dengan alamat www.guntara.com terimakasih!